16 Oktober 2019 tokoh film asal pati sigit hardadi

Sigit Hardadi Datuk Putih Kelabu dari Pati

tokoh pati sigit hardadi
[gambar : tabloidbintang.com]

Saat ini Pati mengenal Soimah Pancawati. Tapi sebelumnya, Pati juga melahirkan talenta berbakat dalam dunia showbiz. Adalah Sigit Hardadi, kelahiran Tayu 27 September 1957. Pria 59 tahun ini mulai dikenal ketika bermain sebagai pemeran utama film “Malioboro” (1989).

Beragam peran di beberapa film telah dilakoninya sejak tahun 1984 (Ginah Yang Gelisah), hingga film “Gie” (2005) dan “Bebek Belur” (2010).

Saat ini Sigit Hardadi tetap membuktikan eksistensinya melalui layar kaca. Adalah Sinetron “Pernikahan Dini” yang saat itu, Sigit Hardadi berperan menjadi Pak Sudrajat dengan lawan main Merriam Belina dan merupakan orang tua dari Sahrul Gunawan.

Pada tahun 2014 namanya kian populer setelah berhasil memainkan peran Datuk Putih Kelabu dalam Sinetron 7 Manusia Harimau yang merupakan drama seri terfavorit Panasonic Gobel Award 2015.

Kesuksesan bapak 3 anak ini tentu saja setelah melalui jalan yang bernama “disiplin” dan kerja keras. Berikut cuplikan cerita dari TeaterKatak.org :

Sigit Hardadi itu keras kepala. Sudah berulang kali diusir, masih juga ia kembali. Dibentak, tak mempan. Dilempar sepatu pun ia peduli setan. Paling-paling ia menyingkir sejenak, lalu datang lagi tak lama berselang. Selalu seperti itu. Selama sebulan penuh, Sigit bersikeras menonton proses latihan Teater Mandiri. Hingga kemudian, Putu Wijaya pun tak tahan.

“Kamu benar mau ikut pementasan?” tanya Putu.

“Iya, Mas.”

“Oke. Dipertahankan, ya. Jangan pernah tidak datang. Jangan pernah terlambat.”

“Iya, Mas.”

Begitulah. Dari sana, Sigit berhasil terlibat dalam pementasan Teater Mandiri pada 1979. Padahal, kala itu ia masih berstatus mahasiswa baru di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (D3) – kini bernama Institut Kesenian Jakarta (S1).

Sigit pun tahu, ada aturan tak tertulis di kampus yang melarangnya terlibat dalam produksi film maupun teater selama masa tiga semester awal perkuliahan. Walau begitu, ia nekat saja. Putu, pendiri Teater Mandiri sekaligus dosen Sigit di LPKJ saat itu, ikut menyadari hal ini. Namun, lama-lama ia luluh juga melihat kegigihan Sigit.

Tak hanya teater, sejak awal kuliah Sigit langsung menjajal diri terjun ke dunia film. Ia memulai karier dari nol. Berakting pun cuma kebagian peran figuran. Toh ia senang-senang saja, asal bisa dapat ilmu dan pengalaman. Selain itu, ia punya kesempatan untuk memperluas jaringan; menambah teman dan mencari uang sampingan.

“Banyak senior yang maki-maki saya di kampus. ‘Ngapain lo sekolah teater, mau jadi aktor, tapi main film cuma jadi figuran. Ngapain sekolah? Ikut agensi saja sana!’ Saat itu, saya diam saja mendengarkan,” ujar Sigit. “Tapi kan saya perlu makan, perlu biaya kuliah, dan lainnya. Makanya begitu masuk kuliah, saya langsung cari kerja.”

Sigit memang datang dari keluarga tak berada. Mulanya ia ingin jadi tentara. Namun saat SMP ia sempat terjatuh dari pohon hingga tangannya terluka parah. Keluarga sontak pesimis ia bisa diterima di Akabri karena cacat fisiknya itu. Saat SMA, barulah Sigit tertarik pada dunia seni.

Sigit lulus LPKJ (IKJ) pada 1984. Setelahnya ia sempat menjadi asisten dosen, dan diangkat jadi dosen tetap di IKJ. Namun karena penghasilan yang dirasa tak cukup menghidupi kebutuhan keluarga, Sigit mengundurkan diri.

Alhasil, Sigit pun fokus mengembangkan karier sebagai aktor film. Ia didapuk jadi pemeran utama dalam film Malioboro (1989). Kemudian, berturut-turut ia juga bermain dalam film Takkan Lari Jodoh Dikejar (1990), Nanti Kapan-Kapan Sayang (1990), dan Sekretaris (1991). Setelahnya, perfilman Indonesia jeblok karena krisis moneter. Kemunculan berbagai stasiun televisi swasta juga membuat banyak pegiat teater dan film yang pindah haluan. Begitu juga dengan Sigit. Ia sempat muncul di sinetron Tali Kasih (2000) dan Pernikahan Dini (2001-2002), sebelum kembali ke dunia layar lebar dalam film Psikopat dan Gie (2005).

Selain di dunia perfilman, Sigit Hardadi juga membantu sang istri, Elizabeth Lutters, mendirikan Teater Pavita yang banyak berisi anak-anak.

Filmografi

Film

  • Ginah Yang Gelisah (1984)
  • Johny Indo (1987)
  • Malioboro (1989)
  • Takkan Lari Jodoh Dikejar (1990)
  • Nanti Kapan-Kapan Sayang (1990)
  • Sekretaris (1991)
  • Psikopat (2005)
  • Gie (2005)
  • Bebek Belur (2010)

Sinetron

  • Tali Kasih (2000)
  • Pernikahan Dini (2001 – 2002)
  • Harga Diri
  • Cewekku Jutek (2003)
  • Rafika (2009)
  • Sekar (2008 – 2009)
  • Khanza (2008)
  • Isabella (2009)
  • Mertua dan Menantu (2010)
  • Seindah Senyum Winona (2010)
  • Khanza 2 (2014)
  • 7 Manusia Harimau (2014)
  • Aku Anak Indonesia (2015)
  • 7 Manusia Harimau New Generation (2016)

[sumber 1 dan sumber 2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.