19 Mei 2019 nasi gandul kuliner khas kabupaten pati

Nasi Gandul Ikon Kuliner Kabupaten Pati

nasi gandul kuliner khas kabupaten pati
kredit : perutgendut.com

 

Nasi Gandul memang menjadi ikon kuliner Kabupaten Pati. Banyaknya media yang meliput, menjadikan Nasi Gandul melekat pada image Pati. Karena memang Nasi Gandul merupakan makanan khas yang memiliki keunikan tersendiri.

Keunikan tersebut mulai dari rasanya yang merupakan kombinasi antara gulai dan semur daging tapi lebih condong ke rasa manis. Selain itu adalah penyajiannya. Aslinya Nasi Gandul disajikan di atas daun pisang saja atau disebut “pincuk“, dengan sendok dari daun pisang juga yang disebut “suru“. Namun sekarang untuk mengurangi kerepotan, banyak warung Nasi Gandul di Pati menyajikan hidangannya di atas daun pisang beralaskan piring. Suru sudah banyak juga diganti dengan sendok-garpu makan.

Sementara untuk lauknya, ditawarkan varian daging sapi lengkap dengan jeroan atau organ dalam sapi seperti usus, babat, limpa dan hati. Ada juga lauk tambahan yakni telur bacem, tahu dan tempe goreng yang sangat tipis dan renyah, serta perkedel kentang. Lauk-pauk tersebut biasanya dipotong kecil-kecil dengan gunting besar. Lainnya, ada kerupuk udang serta keripik tempe yang siap menemani nasi.

Mengingat hampir semua bumbu dapur, kecuali kunyit, masuk dalam Nasi Gandul, maka rasa Nasi Gandul benar-benar ditentukan oleh masing-masing peracik bumbunya.

Semua itu konon berawal dari tahun 1955, oleh Pak Meled warga Desa Gajahmati, Pati. Pak Meled berjualan berkeliling desa menggunakan pikulan.

Dimasa itu, seporsi Nasi Gandul dihargai Rp. 7. Itu sudah komplit, seporsi Nasi Gandul dan teh hangat. Tapi, bagi masyarakat Jawa, harga tersebut terbilang mahal. Jadilah, konsumen Pak Meled kebanyakan kaum Singkek, atau keturunan Tionghoa yang bermukim di Pati dan banyak berprofesi sebagai pedagang.

Baru tahun 1965, Mbah Rono seorang yang dianggap sebagai “Sepuh Pati”, menyarankan orang-orang yang berkonsultasi ke dia, untuk mencoba mencicipi nasi Pak Meled. Sejak itulah nasi Pak Meled mulai dikenal luas.

Karena cara membawa jualannya yang dipikul, sehingga bakul nasi dan kualinya terlihat “gondal-gandul“. Juga karena potongan daging yang gemandul (mengambang) di atas nasi. Maka, nasi Pak Meled kemudian dikenal dengan Sego (Nasi) Gandul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.